Logo Selasa, 4 Agustus 2020
images

Mahathir Mohamad bersama Anwar Ibrahim. Foto: ASIA TIMES

PEWARNA.ID - Politikus terkemuka Malaysia, Anwar Ibrahim, mengungkap pengakuan getir. Anwar kini menyadari dirinya telah ditipu oleh mantan Perdana Menteri (PM) Malaysia, Mahathir Mohamad.

Mahathir Mohamad saat masih menjabat sebagai PM sebelumnya pada Mei 2018 lalu menegaskan ia tidak akan langsung menyerahkan estafet kepemimpinan ke Anwar, tetapi ia akan menduduki jabatan itu selama dua tahun dulu. Dalam pernyataannya kemudian, Mahathir mengatakan, "Dalam tahap awal, mungkin berlangsung selama satu atau dua tahun, saya lah perdana menterinya."

Anwar mengaku dirinya sadar ditipu Mahathir saat Mahathir menjanjikan akan menyerahkan jabatan PM Malaysia kepadanya. Pengakuan itu disampaikan Anwar, yang merupakan Ketua Partai Keadilan Rakyat (PKR), dalam wawancara eksklusif dengan Sin Chew Daily, seperti dilansir The Star, Senin (27/7/2020).

Anwar mengatakan dirinya sejak awal mempercayai bahwa Mahathir Mohamad akan memenuhi janji untuk menyerahkan kepemimpinan setelah dua tahun menjabat.

"Kita tidak tahu sebelumnya, tapi sekarang kita tahu," ucap Anwar dalam wawancara tersebut.

Lebih lanjut, Anwar mengakui ada banyak pihak yang menentang dirinya menjadi PM Malaysia. Pihak-pihak itu disebutnya menentang dengan memainkan 'kartu ras' dan menyebutnya 'kurang Melayu'.

"Banyak miliarder, termasuk seorang Melayu kaya raya yang saya kenal. Saya juga tahu pihak-pihak yang korup juga menentang saya. Mereka memainkan kartu ras dengan mengatakan 'Anwar tidak terlalu Melayu, dan dia tidak melindungi Melayu'," ucap Anwar.

"Saya telah mengambil sikap ini dengan tegas, terutama karena target kita adalah meningkatkan perekonomian. Semua orang bisa sukses. Kita harus mendukung pihak-pihak dengan potensi, termasuk pengusaha China. Saya peduli soal kesejahteraan rakyat. Saya benci pihak-pihak yang mencuri dari orang miskin," imbuhnya.

Mahathir diketahui terus mengganti tanggal penyerahan kepemimpinan, sebelum akhirnya menyatakan dirinya akan mengosongkan jabatan itu setelah pertemuan Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC). Namun pada 24 Februari 2020 lalu, Mahathir mengundurkan diri tanpa memberitahu pimpinan koalisi Pakatan Harapan (PH). Hal ini memicu kolapsnya pemerintahan Pakatan Harapan dan membatalkan janji penyerahan kepemimpinan kepada Anwar. Padahal sewaktu baru dilantik menjadi PM Malaysia dua tahun silam, Mahathir berjanji akan memberikan kursi PM Malaysia kepada Anwar Ibrahim.

Adapun istri Anwar yang juga Ketua Umum Parti Keadilan Rakyat (PKR), Wan Azizah, digadang-gadang bakal menjadi Wakil PM Malaysia. Bahkan, saat itu, Mahathir langsung membebaskan Anwar Ibrahim yang masih mendekam di penjara atas dakwaan Sodomi.

Sebaliknya, Mahathir juga langsung membongkar skandal 1 MDB yang ikut menyeret nama mantan PM Najib Razak. "Saya tidak bisa bertahan sangat lama. Paling tidak, saya bisa bertahan selama dua tahun," kata Mahathir saat itu.

Anwar telah menunggu selama 22 tahun sejak dia dipecat Mahathir dan dipenjara karena tuduhan korupsi dan sodomi pada tahun 1998. Anwar yang dua kali mendekam di penjara karena kasus sodomi, berkali-kali berhasil melakukan comeback politik dengan memimpin gerakan oposisi.

Terakhir, dia menerima grasi dari Raja Malaysia setelah kemenangan mengejutkan Pakatan pada pemilu Mei 2018. Grasi itu diajukan oleh Mahathir yang memutuskan berekonsiliasi dengan Anwar guna mengalahkan Najib Razak.

Koalisi Pakatan Harapan kemudian sepakat bahwa Anwar akan menggantikan Mahathir pada Mei 2020, genap dua tahun setelah Mahathir berkuasa. Namun janji tinggal janji. Pada Februari tahun ini, Mahathir mendadak memutuskan mundur dari jabatannya. Surat pengunduran diri telah ia serahkan ke Raja Malaysia pada 24 Februari lalu.

Tak ada penjelasan resmi terkait alasan di balik keputusan ini. Namun, ada spekulasi bahwa keputusan mundur Mahathir itu hanya sekadar manuver politik untuk mengkhianati Anwar. Pasalnya, Mahathir pernah berjanji untuk menyerahkan tampuk kekuasaan kepada Anwar.

Di lain pihak, Anwar sudah merasa dikhianati oleh koalisi Pakatan Harapan. Dia sudah menduga bahwa Pakatan Harapan akan bubar untuk membentuk koalisi baru.

Di sisi lain, mundurnya Mahathir dan runtuhnya pemerintahan Pakatan Harapan, membuat koalisi Perikatan Nasional yang juga didukung Partai Bersatu dan UMNO -- bekas partai Mahathir -- naik ke tampuk pemerintahan. Muhyiddin Yassin yang bersama-sama membentuk Partai Bersatu dengan Mahathir, terpilih menjadi PM baru Malaysia. (SUMBER: KOMPAS.COM)