Logo Selasa, 25 Februari 2020
images

Foto: kompas.com

pewarna.id - Kristen Protestan dan Katolik Roma saat ini menjadi agama mayoritas di Kepulauan Nias. 

Hal itu ternyata berhubungan dengan sejarah masuknya agama pertama di sana.

Masyarakat Nias dulunya menyembah roh leluhur. Adalah misionaris sekaligus penginjil asal Jerman, E Ludwig Danninger yang mengenalkan agama pada mayarakat Nias. Ia datang ke Kepulauan Nias pada 27 September 1865.

Masyarakat Nias saat ini menetapkan tanggal 27 September sebagai Hari Yubelium Banua Niha Keriso Protestan (BNKP) yang melahirkan pertumbuhan gereja-gereja di Nias.

Pembabtisan di Nias sendiri sempat terhambat sampai kedatangan Belanda pada 1900 silam. Pembabtisan baru dimulai kembali 15 tahun setelahnya.

Saksi bisu jejak Kristen Protestan di Nias 

Jejak masuknya Kristen Protestan di Nias salah satunya bisa ditemukan di Gunungsitoli. Peninggalan itu berupa Gereja bernama Fonorotodo yang berarti mengenang kembali atau peringatan.

Keunikan gereja ini ada pada arsitekturnya. Dari luar, atap gereja berbentuk prisma dengan ujungnya yang diberi mahkota raja.

Sementara itu, terdapat ukiran gambar Yesus dan para murid yang sedang melakukan perjamuan di atas meja makan pada pintu besi gereja.

Begitu masuk ke dalam, nuansa klasik akan langsung terasa dengan jajaran kursi kayu yang terbagi menjadi dua bagian. Di tengahnya, terdapat jalan pendeta menuju altar. 

Langit-langit gereja tampak tinggi dengan dihiasi lampu neon yang menjulur ke bawah sebagai penerangan.

Di bagian depan, altar kayu dengan salib putih sedikit lebih tinggi dari kursi jemaat. Gereja ini memiliki dua lantai dengan tangga spiral di kanan-kiri ruangan.

Menurut seorang pengurus, gereja ini tidak pernah dipugar sama sekali. Gempa yang pernah mengguncang Nias juga tidak berpengaruh terhadap Gereja Fanorotodo ini.

Jika sedang ke Nias, tidak ada salahnya untuk mengunjungi Gereja Fanorotodo untuk melihat dari dekat peninggalan sejarah masuknya agama di Kepulauan Nias itu.

Pengunjung yang beragama Katolik juga bisa beribadah di gereja dengan kapasitas sekitar 500 jemaat ini.

Kekayaan sejarah dan budaya di Tanah Air seolah tak ada habisnya. Temukan beragam kekayaan sejarah budaya Nusantara lainnya melalui laman Pesona Indonesia. (Sumber: kompas.com)