Logo Sabtu, 31 Juli 2021
images

Bupati Kuantan Singingi, Andi Putra. Foto: Goriau.com

PEWARNA.id - Bupati Kuantan Singingi (Kuansing), Andi Putra seharusnya menjadi saksi dalam sidang perkara korupsi pembangunan Hotel Kuansing di Pengadilan Negeri Pekanbaru, Jumat (18/6/2021) siang kemarin. Bukannya hadir memenuhi panggilan, justru mantan Ketua DPRD Kuansing ini melaporkan Kepala Kejaksaan Negeri Kuansing, Hadiman ke Kejaksaan Tinggi Riau. Indra Putra mengaku diperas oleh oknum pimpinan Kejari Kuansing sebesar Rp 1 miliar, terkait dugaan kasus korupsi lainnya.

Andi Putra yang ditemui di Kejati Riau mengaku sudah memberi tahu kalau dirinyalah tidak bisa hadir sidang.

"Saya (sudah) melapor, saya tidak bisa hadir dan tadi sudah saya surati," kata Andi Putra yang dipanggil jadi saksi dalam kapasitas sebagai Ketua DPRD Kuansing.

Selain Andi Putra, dalam persidangan yang dipimpin Irwan Irawan juga dipanggil mantan Bupati Kuansing, Sukarmis, dan mantan Kepala Bappeda Kuansing, Indra Agus Lukman. Sukarmis tidak hadir karena terpapar Covid-19 dan Indra sedang dinas ke luar kota.

Di persidangan hanya dua saksi yang dipanggil Jaksa Penuntut Umum hadir di persidangan. Mereka adalah Hasvirta selaku kabid Aset di BPKAD Kuansing dan Siwi Yudo selaku konsultan pengawas proyek pembangunan Hotel Kuansing.

Sebelumnya, Hadiman mengatakan kehadiran Andi Putra, Sukarmis dan Indra diperlukan di persidangan. Keterangan yang diberikan akan membantu kelancaran proses persidangan.

Terkait ketidakhadiran para saksi, Hadiman menyatakan akan melayangkan panggilan ulang. "Tetap kami panggil Andi Putra dan lainnya," kata Hadiman.

Di Kejaksaan Tinggi Riau, Bupati Kuantan Singingi (Kuansing), Andi Putra, menyebut dirinya diperas terkait dugaan korupsi 6 kegiatan di Sekretariat Daerah Kabupaten (Setdakab) Kuansing. Uang yang diminta sebanyak Rp1 miliar.

Dugaan pemerasan itu dilaporkan Andi Putra didampingi kuasa hukumnya Dodi Fernando ke Bagian Pengawasan Kejaksaan Tinggi (Kejati) Riau, Jumat (18/6/2021). Andi Putra juga membawa orang yang disebut disuruh meminta uang.

"Saya melaporkan Kajari Kuansing terhadap dugaan pemerasan terhadap saya. Semoga dengan laporan saya ini, Pak Kajati bisa menindaklanjuti dengan bijaksana," ujar Andi Putra ketika dijumpai usai melapor di Kejati Riau.

Sementara kuasa hukum, Dodi Fernando, menjelaskan, Bupati Kuansing diperas Rp1 miliar. Permintaan uang dilakukan melalui oknum pegawai Kejari Kuansing.

"Pemerasan kepada Pak Bupati yang disuruh melalui oknum pegawai kejaksaan dengan dalil meminta uang Rp1 miliar untuk menghilangkan nama Pak Bupati dari surat dakwaan agar tak dipanggil ke Pengadilan Tipikor," ujar Dodi.

Permintaan uang dilakukan ketika Andi Putra masih mencalonkan diri sebagai Bupati Kuansing.

"Pertama diminta Rp 1 miliar tidak dipenuhi, dan kemudian diminta lagi Rp 500 juta tapi tidak juga dipenuhi Pak Bupati," kata Dodi.

Dodi menyebut juga ada permintaan uang dalam penanganan kasus dugaan korupsi tunjangan pimpinan dan perumahan anggota DPRD Kuansing. Uang yang diminta Rp 400 juta.

"Sekretaris Dewan Kuansing sudah dipanggil oleh pihak kejaksaan. Dan waktu itu ada oknum kasi (kepala seksi Kejari) yang menangani kasus ini meminta ini dikoordinasikan segera, diminta sampai 22 Juni," tutur Dodi.

Disebutkan uang Rp 400 juta yang diminta disebutkan Rp100 juta untuk oknum Kasi dan Rp 300 juta untuk oknum pimpinan di Kejari Kuansing.

"Bila tidak dipenuhi, maka semua akan diproses hukum dan seluruh tunjangan DPRD akan diperiksa dan diobok-obok oleh pihak Kejari Kuansing," tutur Dodi.

Dodi menyebut tidak menghalangi proses penegakan hukum yang dilakukan Kejari Kuansing. Namun, penegakan hukum hendaknya dilakukan sesuai KUHAP.

"Tidak ada upaya kriminalisasi yang ditunggangi oleh kepentingan politik usai Pilkada," tuturnya.

Serangan Indra Putra pun dibalas bantahan oleh Kajari Kuansing, Hadiman.

"Tidak ada lah (pemerasan). Uang Rp1 miliar pun saya dikasih, mau disuap saya tak mau. Ada buktinya, orang mau coba (suap). Kasus sedang bergulir," tegas Hadiman dikutip dari Cakaplah.com.

Hadiman juga membantah menyuruh orang meminta uang dalam kasus di DPRD Kuansing. "Tidak benar itu," kata Hadiman membantah.

Terkait oknum honorer yang mengatasnamakan Kajari saat meminta uang, Hadiman mengetahuinya. Diduga ada unsur sakit hati hingga oknum tersebut membawa-bawa namanya untuk meminta uang.

"Honorer itu dulu tinggal di rumah saya. Jadi ajudan saya. Di rumah dia makan, tidur di rumah, bareng ke kantor, ngetik-ngetik. Dulu di Pidsus juga sebelum jadi Kajari. Difasilitasi," tutur Hadiman.

Menurut keterangan sejumlah pihak, honorer itu suka membocorkan rahasia dan dokumen penyelidikan dan penyidikan kasus di Pidana Khusus. Tindakannya membuka rahasia negara dinilai sudah keterlaluan.

"Belum dipanggil, sudah tahu orang. Akhirnya, mau tak mau kita keluarkan, saya pecat. Masa honorer bocor-bocorkan dokumen," tegas Hadiman.

Diduga karena dipecat, honorer itu sakit hati dan mengaku disuruh meminta uang. "Mungkin saja seperti itu. Saya pecat dia karena bocorkan dokumen bukan disuruh minta duit," ucap Hadiman.


Akan Lapor Balik

Atas laporan Andi Putra itu, Hadiman menyatakan siap dipanggil oleh Pengawasan Kejati Riau untuk memberikan keterangan.

Jika nanti tidak terbukti melakukan pemerasan, Hadiman menyatakan akan melaporkan kembali orang-orang yang telah mencemarkan nama baiknya ke aparat hukum.

"Saya akan laporkan balik. Siapa yang melaporkan akan saya lapor balik. Bisa ke Polres atau ke Polda," tegas Hadiman. (Sumber: Cakaplah.com)