Logo Senin, 17 Februari 2020
images

Candi Borobudur (Foto: tribunnews.com)

PEWARNA.id - Negeri Jawa dulu pasti punya sumber daya manusia yang melimpah untuk mengangkut, menyusun, dan memahat batu dengan terampil. Sumber daya pertanian berkecukupan untuk menyediakan pangan bagi para pekerja.

Mereka juga pasti memiliki institusi yang terorganisir untuk mengawal pembangunan ambisius seperti Candi Borobudur. Melihat candi megah di Magelang, Jawa Tengah itu, terbayang kondisi ekonomi Jawa pada masanya telah surplus. Sehingga bisa membiayai pembangunan yang begitu besar bahkan tak memberi keuntungan ekonomi langsung.

Lalu apa motivasi di balik pembangunan Candi Borobudur?

John Miksic, peneliti dari Southeast Asian Studies Department, National University of Singapore dalam Borobudur: Golden Tales of the Buddhas, menjelaskan Candi Borobudur lahir ketika agama Buddha tidak dalam keadaan tenang dan stabil. Sebaliknya, masa itu adalah periode kebangkitan intelektual yang intens.

Selama abad ke-7 dan ke-8, peziarah Buddha yang berlayar melalui Indonesia semakin meningkat. Catatan yang ditinggalkan mereka menyebutkan bahwa Jawa dan Sumatra merupakan dua di antara pusat pendidikan Buddhis internasional selama periode itu.

Dalam catatan mereka, tertera gambaran yang jelas tentang kegiatan penganut Buddha di pulau-pulau ini. Salah satunya tergambar dalam catatan Yijing atau I-Tsing, biksu Tiongkok yang mengunjungi Nusantara pada abad ke-7.

Pada Desember 671, ia berlayar dari Kanton dan mampir di pelabuhan milik Sriwijaya di Sumatra. Di sana, ia menghabiskan enam bulan mempelajari bahasa Sanskerta.

Dari sana ia berlayar ke India menggunakan kapal milik penguasa Sriwijaya. Di India, dia menghabiskan waktu 15 tahun belajar dan mengumpulkan kitab Buddha. Dalam pelayarannya pulang ke Tiongkok, ia kembali mampir di Sriwijaya pada 686.

“Yijing melaporkan bahwa para biksu dari Sichuan dan Tonkin pergi ke Jawa untuk belajar di bawah bimbingan seorang guru India yang terkenal,” tulis Miksic.

Kemudian ada Vajrabodhi, salah seorang pemikir Buddhis terpenting dari abad ke-8 yang lahir di Kanci, India Selatan pada sekira 706. Ia mempelajari dan mungkin merevisi dua teks, Mahavairocana dan Vajrasekhara.

Keduanya sangat penting di Jawa. Ceritanya, sewaktu muda Vajrabodhi menerima instruksi supranatural untuk menyebarkan teks-teks itu ke Tiongkok. Dia berlayar ke Sumatra pada 717 dan melanjutkan ke Jawa.

Dia masih berada di Jawa pada 718 ketika bertemu dengan seorang biksu Sri Lanka berusia 14 tahun bernama Amoghavajra. Amoghavajra yang datang ke Jawa dalam kunjungan dagang dengan pamannya. Ia kemudian menjadi murid Vajrabodhi dan menemaninya ke Tiongkok pada 719.

Di Tiongkok, mereka menetap sampai kematian Vajrabodhi pada 741. Amoghavajra kemudian melakukan perjalanan lagi ke Jawa. Ia mengumpulkan tulisan suci baru untuk dibawa kembali ke Tiongkok dan diterjemahkan ke dalam bahasa Tionghoa.

Murid-murid di sana tertarik padanya. Salah satunya Huiguo (746-805) yang kemudian melanjutkan ajarannya. Di antara murid-muridnya ada yang berasal dari Jawa.

“Berkat kontak budaya yang dipupuk oleh para peziarah semacam itu, agama Buddha menikmati periode popularitas yang singkat tapi intens di Jawa Tengah,” jelas Miksic.

Umat Buddha, khususnya di Nusantara, kala itu begitu menghormati para guru yang membawa teori dan metode ajaran baru. Dari setiap guru dan setiap negeri yang mengembangkan metode ajaran baru itu kemudian membawa pada interpretasi tersendiri.

Dalam hal ini, kata Miksic, Nusantara pasti punya kontribusi besar dalam penyebaran ajaran Buddhis yang mereka serap.

Sayangnya hanya sedikit manuskrip Buddhis di Nusantara yang sampai ke masa sekarang. Tapi yang jelas, ide-ide itu berdampak penting pada seni dan arsitektur Buddhis yang berkembang di wilayah itu.

“Terutama ketika bangunan suci mulai digunakan dalam upacara khusus untuk mempercepat pencapaian spiritual,” jelas Miksic.

Saat rute perdagangan yang menghubungkan India dengan Jawa dan Sumatra dibuka, doktrin-doktrin itu berkembang pesat. Sumatra dan Jawa dipengaruhi oleh gagasan-gagasan Buddhis Mahayana yang tersebar di sepanjang rute perdagangan maritim.

“Ajaran yang diserap oleh orang Jawa dan Sumatra Kuno inilah yang kemudian memotivasi dan membentuk konstruksi bangunan seperti Candi Borobudur,” kata Miksic lagi.

 

Simbol Politik

Walaupun Borobudur dibangun dengan motif keagamaan, proyek sebesar itu tidak dapat menghindari aspek politik. Tak seperti di Sumatra yang pengaruh Buddhanya tetap sebagai yang utama untuk periode cukup lama.

Pada masa Jawa Kuno, tradisi Buddha tak sepopuler Hindu. Kebanyakan candi dan arca didedikasikan untuk Siwa dan Wisnu, Kisah Ramayana dan Mahabharata begitu populer, bahkan hingga sekarang.

Sementara ajaran Buddha berkaitan erat dengan dinasti yang berkuasa, yaitu Sailendra yang begitu dominan dalam perpolitikan Jawa Kuno pada abad ke-8.

Pada masa keemasannya Candi Borobudur lahir, yaitu antara 750 dan 850. Itu sebagaimana dijelaskan arkeolog Soekmono dalam Chandi Borobudur.

Lebih spesifik lagi, Edi Sedyawati dalam Candi Indonesia: Seri Jawa menjelaskan kemungkinan candi ini berasal dari abad ke-9 berdasarkan bentuk huruf Jawa Kuno yang dipakai untuk menulis inskripsi pendek di atas panil relief Karmawibhangga, di dinding kaki Candi Borobudur.

Data lainnya adalah Prasasti Karangtengah dan Sri Kahulunan. Dari sana J.G. de Casparis, epigraf asal Belanda, memperkirakan tokoh di balik pembangunan Borobudur.

Dalam Prasasti Karangtengah terdapat keterangan seorang raja bernama Samaratungga. Putrinya, Pramodawardhani mendirikan bangunan suci Jinalaya serta bangunan Wenuwana. Casparis mengaitkan bangunan Wenuwana dengan Candi Mendut.

Sementara Soekmono mengidentifikasinya sebagai Candi Ngawen atas dasar persamaan bunyi nama. Adapun bangunan yang disebut Jinalaya diduga merujuk pada Candi Borobudur.

Keterangan lainnya, Prasasti Sri Kahulunan, dikeluarkan pada 824. Di dalamnya disebut nama Sri Kahulunan sebagai tokoh yang menganugerahkan tanahnya di desa Tri Tepusan.

Tujuannya untuk pemeliharaan tempat suci bernama Kamulan I Bhumisambhara, tempat asal Bhumisambhara. Nama Bhumisambhara kemudian dikaitkan dengan sebutan Borobudur pada masa sekarang.

Adapun gelar Sri Kahulunan dihubungkan dengan Dyah Pramodhawardhani, putri Raja Samaratugga dari Dinasti Sailendra. Karenanya, menurut Casparis, sangat mungkin candi itu didirikan oleh Raja Samaratungga dan putrinya, Pramodhawarddhani. Mereka inilah yang mendukung pembangunan secara materi. 

Dibandingkan dengan kondisi di India dan di Tiongkok, pembangunan stupa terkadang dimotivasi oleh pertimbangan politik. Misalnya Raja Ashoka dari Dinasti Maurya yang membangun 84.000 stupa sebagai tindakan kebajikan. Namun mungkin itu juga berfungsi sebagai simbol kedaulatan teritorialnya.

“Puncak menara di bagian atas stupa sering dianggap sebagai paku yang secara fisik memungkinkan penguasa menjaga tanahnya stabil dan damai,” jelas Miksic.

Konsep semacam itu di Jawa ditemukan pada dua kerajaan yang lebih modern. Ada Paku Alam di Yogyakata dan Paku Buwana di Surakarta. Bisa saja itu pula yang berlaku dalam kasus Borobudur. Ada legenda yang mempercayai kalau Gunung Tidar yang hanya berjarak beberapa kilometer dari candi itu adalah semacam “paku bumi Jawa”.

“Kendati tak ditemukan jejak arkeologis di kawasan itu, sangat mungkin bahwa selain banyak fungsi lainnya, Borobudur juga berfungsi sebagai simbol kekuatan politik penguasa,” ungkap Miksic.

Harus diakui penjelasan di balik pembangunan Candi Borobudur sejauh ini tak banyak didukung data. Edi Sedyawati bahkan menyatakan kalau tak ada keterangan pasti soal pendirian Candi Borobudur. Karenanya pembicaraan soal Borobudur belum akan usai. (sumber: historia.id)