Logo Senin, 26 Oktober 2020
images

Kegiatan keagamaan misi zending di Indonesia. Foto: INTERNET

PEWARNA.ID - Memasuki abad ke-19, misi zending atau pekabaran injil di negeri kolonial semakin gencar digalakan pemerintah Belanda. Sebagai salah satu program kolonialisasi, para wakil gereja melakukan misi penyebaran ajaran Kristen di tengah masyarakat. Namun bukan perkara mudah menjalankannya. Para zending mendapat hambatan besar dari orang-orang Islam.

Menurut M. Natsir dalam Islam dan Kristen di Indonesia, tidak ada satu agama yang amat menyusahkan para zending dan misionaris dalam pekerjaan mereka menyebarkan agama Kristen daripada Islam. Maka setiap mendapat kesempatan melakukan konferensi besar, perbincangan soal reaksi dunia Islam itu selalu menjadi pembahasan yang hangat.
 
Begitu pula yang terjadi pada konferensi zending di Amsterdam, Belanda pada 25 Oktober 1938. Pertemuan para penyebar ajaran Kristen yang dihadiri Perdana Menteri Hendrikus Colijn itu mendapat perhatian besar pemerintah Belanda, terutama setelah beberapa tahun terakhir banyak upaya perlawanan di Hindia Belanda yang dimotori oleh golongan ulama. Maka satu pokok pembicaraan yang menjadi perhatian semua orang adalah “sikap Islam di Indonesia sekarang ini”.

“Orang Islam yang berada di bawah pemerintah asing lebih konservatif memegang agama mereka daripada negeri-negeri yang sudah merdeka,” tulis Hendrik Kraemer dalam The Christian Message in a Non Christian World.

Peristiwa Perang Jawa, Perang Aceh, Perang Kamang, dan beberapa pemberontakan lain, penggeraknya adalah orang Islam. Bagi para zending, berbagai peristiwa perlawanan itu terjadi karena umat Islam di Indonesia memiliki keinginan kuat untuk menjalankan ajaran agamanya dengan tenang. Masuknya Belanda tentu mengancam hal tersebut.

“Tetapi di Indonesia agama Islam belum masuk benar ke dalam masyarakat sedalam-dalamnya. Masih ada keinginan hendak menyesuaikan adat istiadat dan kepercayaan lama dengan ajaran-ajaran yang dibawa oleh agama Islam,” lanjut Kraemer.

Celah itu yang coba digunakan para zending untuk menyebarkan ajarannya, dan melemahkan ajaran Islam. Seperti yang dilakukan Nederlandsche Zendingsvereeniging (NZV) di Jawa Barat. Dijelaskan Th. Van den End dalam Sumber-Sumber Zending tentang Sejarah Gereja di Jawa Barat 1858-1963, orang-orang NZV menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Sunda untuk mendekati masyarakat Sunda.

Pendekatan lain yang coba dilakukan para zending untuk melemahkan ajaran Islam di Indonesia adalah dengan pendidikan dan kebiasaan-kebiasaan ala Barat. Pengetahuan baru diyakini dapat menggantikan kebiasaan lama, yang pada akhirnya akan dapat melepaskan orang-orang dari genggaman Islam. Pengetahuan Barat yang liberal dijadikan senjata utama pendekatan terhadap umat Islam.

Namun persoalan itu rupanya menjadi kekhawatiran tersendiri bagi Natsir. Di dalam Pandji Islam tahun 1938, anggota Partai Islam Indonesia itu menyebut jika ikatan ajaran Islam antara generasi tua dan muda masih sama-sama lemah. Generasi tua terlalu terkekang dengan berbagai kepercayaan adat, sementara kaum muda terlalu mudah terpengaruhi oleh perubahan baru. Permasalahan yang menjadi penyakit kaum muslimin di Indonesia.

“Sudah bukan barang yang mustahil lagi apabila sekarang terjumpa anak-anak kita orang Islam yang telah sampai ke sekolah-sekolah menengah yang belum pernah membaca Fatihah seumur hidupnya, dan hanya belajar mengucapkan kalimah Syahadat dengan bersusah payah diwaktu akan mengakadkan nikah di muka penghulu,” ungkap Natsir.

Sama seperti Natsir, para zending juga memiliki kekhawatirannya sendiri dalam menjalankan misi agama mereka. Dalam konferensi, para zending menyarankan agar misi penyebaran ajaran Kristen dilakukan secepat mungkin, dengan cara-cara yang lebih baik. Sebab, dalam beberapa tahun kedepan, dikhawatirkan bangsa Indonesia akan lebih susah dimasuki oleh agama Kristen. Pengaruh Islam yang kuat sudah mulai terlihat dengan kehadiran organisasi-organisiasi berbasis keislaman, baik di bidang politik, sosial, ekonomi, hingga budaya.

Konferensi zending Amsterdam menyepakati beberapa poin yang disetujui pemerintah Belanda, melalui keputusan PM Colijn. Pertama, setiap kegiatan zending di Hindia Belanda akan mendapat tambahan bantuan. Kedua, setiap zending akan mendapat jatah uang setiap bulan untuk kehiduan mereka. Ketiga, menambah jumlah surat izin penyebaran agama Kristen untuk para zending baru.

”Dan kita hanya dapat berseru kepada penganjur-penganjur kita, terutama dalam pergerakan muslimin di Indonesia,” imbuh Natsir. (SUMBER: HISTORIA.ID)