Logo Selasa, 25 Februari 2020
images

Garuda Pancasila (Foto: Internet)

PEWARNA.id, JAKARTA - Rumah Nawacita mengkhawatirkan pro kontra dan debat tak produktif seputar Pancasila yang akhir-akhir ini terus mencuat ke publik. Debat seputar Pancasila sudah seharusnya dihentikan dan diganti dengan tanggung jawab untuk mengimplementasikannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, khususnya di kalangan tokoh, elit bangsa serta politisi.

"Stop berkelahi tentang Pancasila. Stop debat yang tak produktif. Sekarang saatnya kita berlomba-lomba untuk melaksanakannya dalam setiap denyut kehidupan, di lingkungan terkecil sampai ke pergaulan masyarakat, kehidupan berbangsa bernegara. Debat hanya akan membuat polarisasi yang tak produktif, menimbulkan kegaduhan dan liar serta tak terkendali, apalagi jika diboncengi motif lain," kata Founder Rumah Nawacita, Raya Desmawanto, MSi kepada media, Jumat (6/12/2019).

Raya menegaskan, para pendiri bangsa (founding father) dengan segala dinamika dan pandangan kebangsaan telah merumuskan Pancasila sebagai dasar negara. Pancasila diyakini sebagai dasar filosofi dan kompas pemersatu Indonesia yang majemuk dengan segala kepelbagaian perbedaan SARA, geografis dan tipologi sosial.

"Karena itu, rumusan para pendiri bangsa tentang Pancasila haruslah kita dalami, kita pelajari dan kita pahami. Bukan lagi menjadikannya sebagai bahan debat kusir yang menimbulkan polarisasi dan rasa kebencian. Ini kontraproduktif. Para founding father kala itu sudah berdebat keras merumuskan Pancasila, sehingga kita saat ini harus merawat dan menghidupi nilai-nilai Pancasila tersebut," tegas Raya.

Raya yang merupakan eks Ketua Umum Relawan Jokowi Center Indonesia-RJCI (cikal bakal Rumah Nawacita) ini juga meminta agar semua pihak menghentikan segera upaya membangun stigma-stigma tertentu dengan label Pancasila atau anti-Pancasila, karena hal itu akan menimbulkan perpecahan sesama anak bangsa. Perasaan diri atau mengklaim diri paling Pancasila-is, menuduh orang lain tidak Pancasila-is dan memprovokasi rakyat dengan jargon jargon yang seakan-akan anti-Pancasila haruslah segera dihentikan.

Menurut Raya, tidak ada seorangpun yang bisa mengklaim dirinya paling Pancasila-is, sementara pada saat yang sama ia sendiri menuding orang lain tidak Pancasila-is.

"Hentikan klaim diri paling Pancasila-is, hentikan pula menuduh orang lain tidak Pancasila-is. Kita ini sesama anak bangsa, menghirup udara Indonesia dan panasnya matahari tropis Indonesia yang sama. Jadi, janganlah kita merasa diri paling benar, lalu menyalahkan orang lain dengan ukuran kita. Pancasila itu pemersatu kita. Jangan kita rusak dan kita debatkan sehingga karena Pancasila kita tidak bersatu, ini keliru besar. Pancasila itu pemersatu Indonesia yang kokoh dan lestari," tegas Raya.

Raya juga menilai pernyataan aktivis Rocky Gerung yang menuding Presiden Jokowi tidak memahami Pancasila sebagai pernyataan yang tidak berdasar, tendensius dan terlalu menghakimi. Rocky yang merupakan bekas mitra diskusi Prabowo Subianto tersebut dinilai Raya telah membuat ukuran pemahaman Pancasila seseorang berdasarkan imajinasi dan defenisinya sendiri, sehingga amat bias dan subjektif. 

"Terlalu absurb jika Rocky Gerung menyampaikan hal itu secara gamblang dalam forum terbuka di media televisi. Rocky menyampaikan tudingan itu dengan bias dan subjektif, karena menggunakan dasar imajinasi dan ukuran yang dibuatnya sendiri," tegas Raya. 

Raya menjelaskan, sudah saatnya Pancasila yang ditetapkan 74 tahun lalu bisa dilaksanakan secara membumi, konkret dan nyata dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.

"Kita merindukan nilai-nilai Pancasila yang membumi, konkret, nyata dan berwujud. Bukan sekadar jargon kampanye, sementara pada sisi lain nilai-nilai Pancasila digerogoti dan dirongrong dengan ideologi lain seperti neoliberalisme, neokapitalisme, demokrasi yang ugal-ugalan, paham keagamaan yang sempit dan paham lain yang kontraproduktif dengan nilai-nilai Pancasila," tegas Raya.

Raya mengingatkan agar para elit bangsa, pejabat serta penyelenggara (pegawai) negara maupun mereka yang digaji dari uang negara/ uang rakyat, bisa menjadi contoh dan teladan yang baik dalam penerapan nilai-nilai Pancasila. Sebab tanpa adanya keteladanan, maka nilai-nilai Pancasila tidak akan dikenal dan ditiru oleh anak generasi bangsa yang akan datang.

"Jika para elit maupun pegawai negara saat ini tidak menunjukkan perilaku yang mencerminkan nilai-nilai Pancasila, maka negara kita akan mengalami kekosongan teladan. Pancasila jangan sampai dirusak oleh perilaku koruptif, destruktif dan provokatif elit negara maupun pegawai negara. Idealnya mereka menjadi contoh," pungkas Raya. (*)