Logo Senin, 26 Oktober 2020
images

Amos Rabe Tuka

TABLOIDPEWARNA.com - Kehidupan manusia merupakan daya tarik tersendiri untuk dijadikan menu pembicaraan, tentunya dengan versi dan dari sudut pandangan yang berbeda. Salah satu hal yang tak dapat terpisahkan dari makhluk yang namanya manusia ini adalah rasa bahagia yang senantiasa diidamkannya. Beragam pemahaman pribadi, kelompok maupun golongan akan muncul dan mencoba mengungkapkan apa yang namanya bahagia itu.

Diantaranya ada yang mengatakan bahwa bahagia itu merupakan  suatu keadaan pikiran atau perasaan yang ditandai dengan kecukupan hingga kesenangan, cinta, kepuasan, kenikmatan atau kegembiraan yang intens. Sebagian lagi berkata bahwa, bahagia itu letaknya di hati dan berkaitan dengan perasaan sehingga bahagia tidak dapat ditentukan melalui satu dimensi saja.

Ada juga yang mengatakan bahwa bahagia itu sifatnya relatif dan sebuah pilihan. Artinya bahwa bahagianya seseorang pencapaiannya bukan pada bahagianya namun kepada sikap pribadi itu dalam memilih untuk bahagia atau justru sebaliknya. Untuk mencapai bahagia manusia seyogyanya dapat mengontrol dan menguasai perasaannya dan tetap terjaga dalam suasana yang stabil. Bahagia merupakan idaman setia manusia.

Bahagia merupakan tujuan utama dari setiap insan dalam menjalani kehidupan ini. Tak ada pribadi yang menjalani kehidupan ini agar dia tidak bahagia, bahkan sebaliknya bahagia membuat orang rela meninggalkan sesuatu demi memuaskan hasratnya melalui apa yang namanya bahagia. Bahagia bukanlah barang yang diraih melalui perdagangan atau proses jual beli. Bahagia juga tidak ditentukan oleh jabatan yang diemban atau harta yang berlimpah.

Walaupun tidak berlimpah secara materi namun tetap saja orang bisa bahagia. Karena materi bukanlah satu-satunya ukuran sebuah kebahagiaan. Bahagia juga pada akhirnya tidak bisa di ceritakan karena pada akhirnya orang yang menceritakan bahagia justru terjerumus dalam kondisi sebaliknya atau hidup dalam ketidakbahagiaan. Bahagia juga tidak bisa dicari atau ditemukan karena bahagia justru muncul dalam hati yang tidak bisa di hiasi dengan kemunafikan.

Bahagia berjalan apa adanya dan tampil secara natural sehingga kadang membuat orang yang menjalaninya menjadi dilema. Bahagia kadang tidak bertahan selamanya dalam satu hati namun justru dia ada dalam setiap hati sehingga ada ungkapan yang berkata: "Aku akan Bahagia Jika Kamu Sudah Bahagia". Artinya bahagia tidak hanya tergantung dari satu pribadi namun justru saling keterkaitan antara hati yang satu dengan yang dengan yang lainnya.

Penyebab dalam meraih bahagiapun menjadi beragam. Kadang orang justru bekerja keras untuk mendapatkan apa yang namanya bahagia namun apa yang terjadi justru kekecewaan yang dipanennya. Di sisi lain kadang mereka tidak mengutamakan bahagia namun justru mereka tetap bahagia dengan situasi tersebut. Bahagia ibarat sumber mata air yang tidak akan pernah habis untuk dibicarakan, ia terus ada dan akan tetap ada.

Kadang manusia sudah memiliki segalanya dengan anggapan akan bahagia dengan apa yang dimilikinya, namun pada akhirnya ia harus menelan kekecewaan dengan semua yang di milikinya. Kadang bahagia menjadi momok misterius yang saat di butuhkan tidak ada namun ketika tidak di perlukan justru ada di sekitar kita.

Karena itu beragam anggapan dan tanya akan menghiasi pikiran insan dengan bertanya, sebenarnya apa yang menyebabkan seseorang bahagia. Penyebab seseorang menjadi bahagia pun menjadi beragam. Masalahnya adalah, apakah bahagia itu akan bersifat secara permanen dalam hati seseorang atau bahagia itu justru hanya mampir sesaat.

Tentunya alasan-alasan atau penyebab seseorang menjadi bahagia menjadi daya tarik tersendiri untuk di bicarakan. Beberapa tulisan menunjukan bagaimana dunia menawarkan apa yang namanya bahagia. Membiasakan diri dengan mengucapkan terima kasih (mengucap syukur)  merupakan poin pertama yang seyogyanya dilakukan manusia.

Lagi-lagi dalam meraih kebahagian ternyata salah satunya dengan belajar berterima kasih atas semua pencapaian kita dalam kurun waktu tertentu. Ada pula  yang  mengatakan bahwa untuk mencapai sebuah bahagia dalam hidup ini, hal lain yang tak kalah penting yaitu bertambahnya durasi waktu bersama dengan keluarga, kerabat dan tentunya orang yang dekat dengan kita, baik mereka yang hadir di masa lalu kita maupun mereka pribadi yang sementara bersama dengan kita dimasa kini. Bahagia takkan pernah habis jika dituliskan maupun dibicarakan.

Bahagia akan terus melahirkan ide-ide, apalagi membicarakan bahagia dilakukukan oleh mereka yang sementara diliputi oleh rasa bahagia. Karena itu menjadi persoalan yang perlu pengkajian secara serius, jika bahagia ada dan tidak pernah habis, maka pertanyaannya adalah dimana sumber bahagia itu baik yang ditawarkan oleh dunia, maupun dalam iman kristiani.

Kebahagiaan  bangsa Israel yang mengalami pertolongan Tuhan ketika melalui kepemimpinan Musa dapat keluar dari Mesir tentunya dengan berbagai situasi yang ada merupakan hal yang sepatutnya disyukuri. Namun ternyata apa yang dilakukan oleh bangsa Israel yang semestinya tetap mengucap syukur itu, justru sebaliknya mereka tidak lagi hidup dalam anugrah Tuhan (Keluaran 32:1).

Dalam ayat di atas, kita bisa melihat karakter  bangsa Israel yang tidak bahagia dan berterima kasih  tetapi mereka memilih menggerutu ketika Musa  masih dalam proses menerima dua loh batu karena harus berkomunikasi dengan Tuhan dalam durasi waktu yang cukup lama.

Sikap ketidaksabaran yang ditunjukan oleh bangsa pilihan Tuhan ini mewakili karakter manusia pada umumnya yang tidak memiliki kesabaran yang mengakibatkan sirnanya sebuah kebahagiaan.

Ketidaksabaran yang di miliki bangsa Israel justru membuatnya memper-allah yang lainnya atau membuat allah lain untuk melindungi mereka. Mereka meminta kepada Harun agar membuat allah lain untuk berjalan dihadapan mereka sebab menurut bangsa Israel, Musa yang telah memimpin mereka keluar dari tanah Mesir sepertinya tidak bertanggung jawab untuk terus bersama-sama melanjutkan kehidupan mereka kedepannya.

Dan celakanya Harun justru mendukung atau menyetujui permintaan dari bangsa ini. Dapat dibayangkan apa yang akan di terima atau di alami oleh bangsa Israel ketika mereka berpaling dari Allah yang menyertai mereka keluar dari tanah Mesir.     

Secara rasio, jika kehidupan dan karakter bangsa Israel seperti ini, maka apakah bangsa ini masih layak hidup bahagia. Jika mereka bahagia, pertanyaan selanjutnya adalah dari mana sumber bahagia itu dan bagaimana prosesnya sehingga mereka dapat bahagia. Seyogyanya bangsa ini tak lagi layak hidup bahagia, mengapa demikian karena mereka tak lagi percaya sepenuhnya kepada TUHAN.

Sepatutnya mereka harus di hukum, dibinasakan sebagai konsekuensi dari ketidaksabaran mereka. Namun lagi-lagi Musa menjadi perantara yang baik antara Tuhan dan bangsa Israel sehingga murka Tuhan tak terjadi pada bangsa Israel (Keluaran  32:13-14). Penyesalan Tuhan terjadi setelah Tuhan berkomunikasi dengan Musa.

Sumber Kebahagiaan Bangsa Israel
1.    Bebas dari Murka Allah
Tak ada hal yang membuat orang lain atau sesorang hidup bahagia selain ketika dia bebas atau luput dari sebuah kejahatan. Bebas atau selamat dari sebuah musibah adalah impian semua orang terutama bagi mereka yang sementara menjalaninya.

Kita ambil saja contoh bagi mereka yang kurang beruntung yang saat ini berada dalam jeruji besi. Jika di tanyakan kepada yang bersangkutan maka dapat dipastikan jawabannya adalah mereka ingin sebuah kebebasan. Siapapun dia tak ada yang bahagia jika sementara diperhadapkan dengan sebuah masalah.

Pikiran yang kalut, semua jalan sepertinya tertutup membuat pribadi yang bermasalah tersebut galau dalam melangkah. Sehingga memang tidak ada menu yang lain yang membuat kita bahagia selain bebas atau selamat dari sebuah pergumulan.

Inilah yang di alami oleh bangsa Israel, bangsa yang seharusnya dibinasakan karena murka Tuhan sebagai akibat dari menduakan Tuhan, namun mereka bebas dan selamat. Selamat dari kebinasaan dan murka Tuhan bukanlah perkara mudah yang diperoleh dan di dapatkan bangsa ini. Bahkan mereka sendiri tidak bisa memperolehnya tanpa bantuan Musa.

Mereka membutuhkan orang lain sebagai perantara untuk mendamaikan. Penyesalan Tuhan atas malapetaka yang di rancangan-NYA untuk membinasakan bangsa Israel (Keluaran 32:14) membawa angin segar atau berita bahagia bagi bangsa Israel melalui Musa. Bahagia yang diperoleh bangsa Israel atau bebasnya bangsa ini dari murka Tuhan tentunya tidak di peroleh dengan cuma-cuma atau hanya hasil kerja pribadi tertentu.

2.    Yesus adalah Sumber Kebahagiaan
Apakah orang yang belum mengenal dan di luar Yesus dapat hidup bahagia? Jawabannya adalah mereka dapat  hidup bahagia hanya saja, mereka tidak dapat  mengukur bahagia itu. Orang yang belum mengenal atau di luar Yesus akan menilai materi  sebagai sumber bahagia sejati, namun sebaliknya orang yang sudah mengenal dan hidup di dalam Yesus  memaknainya bahwa Yesus sebagai sumber bahagia dan bersifat abadi.

Yesus yang adalah sumber bahagia itu justru memaknai kebahagiaan dengan gaya yang berbeda yang bisa saja tidak familiar di kalangan orang banyak. Dalam Khotbah di Bukit (Matius 5:3-12) ditulis begitu rinci dan itu berita yang tidak disukai oleh sebagian orang, namun di sanalah letak kebahagiaan sesungguhnya.

Bangsa Israel yang merupakan umat pilihan Tuhan itu dapat hidup bahagia bukan karena mereka tidak bercacat atau berdosa di hadapan Tuhan, bukan juga karena mereka sudah dipilih secara khusus oleh Tuhan. Kasih Tuhan yang telah tercurah dibangsa Israel membebaskan bangsa ini dari hukuman dosa dari Tuhan. Kasih Tuhan yang begitu besar ini jua sehingga seakan menutupi dosa besar yang dilakukan oleh bangsa Israel.

Itulah Tuhan, Dia lebih mengutamakan agar kasihNya mendapat tempat di hati umat pilihanNya bila di bandingkan dengan hukuman kebinasaan yang akan di terapkannya. Tuhan dalam setiap keputusanNya tidak pernah melenceng dari kasihNya. Mengapa demikian? karena Tuhan adalah kasih itu sendiri.

Andaikan saat ini kita sepakat bahwa kita adalah orang yang bahagia karena telah mendapatkan kasih Tuhan, maka pertanyaannya adalah apakah itu sebuah kejujuran atau hanya sekedar jawaban dari sebuah pertanyaan?

Karena sesungguhnya kebahagiaan yang sesungguhnya adalah ketika bahagia itu dapat dirasakan bukan karena berlimpah materi atau jabatan yang tinggi, namun justru karena hubungan dengan Tuhan yang semakin tinggi dan berlimpahnya kasih setia Tuhan terhadap kita.

Kita diingatkan, bahwa materi yang banyak bukan ukuran sebuah kebahagiaan yang walaupun diakui itu dibutuhkan. Namun ukuran sebuah kebahagiaan sesungguhnya yaitu saat kita bebas atau selamat dari sebuah masalah dan ketika kasih Tuhan terus tercurah bagi kita dan Tuhan menjadi sumber bahagia itu. Maka itulah kebahagiaan yang sesungguhnya. (*)

 

Penulis: Amos Rabe Tuka, Pelayan di GBI Jemaat Getsemani, Padang